Warga Bontang yang Berpuasa di Luar Negeri (3-habis); Puasa 20 Jam, Jarak Imsak dan Buka Cuma 4 Jam

Warga Bontang yang Berpuasa di Luar Negeri (3-habis); Puasa 20 Jam, Jarak Imsak dan Buka Cuma 4 Jam
Warga Bontang yang Berpuasa di Luar Negeri (3-habis); Puasa 20 Jam, Jarak Imsak dan Buka Cuma 4 Jam - Puasa di negeri orang bukan hanya dirasakan bagi mereka yang tengah bekerja di luar negeri. Manis dan pahitnya menjalankan ibadah puasa di negeri yang mayoritasnya non muslim juga dirasakan para mahasiswa asal Bontang yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Negara Rusia.

Hendra R Pangemanan misalnya. Salah satu mahasiswa asal Bontang ini mengaku tahun ini adalah tahun pertamanya berpuasa di negeri orang.

Jauh dari orangtua dan harus terbiasa dengan kultur yang ada di Rusia menjadi gaya hidup baru yang mau tidak mau harus dia lakukan. “Ini puasa pertama saya di luar negeri. Agak terkejut juga. Karena saya lama puasanya sampai 19 jam lebih. Karena di sini lagi musim panas, malamnya cuma sebentar saja,” jelasnya.

Menariknya lagi kata dia, dirinya dan rekan-rekannya yang lain lebih memilih memakan sedikit saja dan lebih memilih banyak minum pada saat berbuka puas. Karena, jam buka puasa dengan waktu imsyak berbeda dengan di Indonesia.

“Selisihnya cuma 4 jam. Buka puasanya jam 21.35. Sementara imsaknya jam 01.55. Nah, kadang makannya gak banyak. Saya lebih memilih banyakin minum. Supaya tidak dehidrasi,” ujarnya.

Sedangkan untuk terawih, dirinya dan rekan-rekan lainnya memiliki cara sendiri. Kata dia, terawih yang dimulai pada pukul 00.00 terpaksa harus dilakukan di asrama. “Masjidnya jauh dari asrama mahasiswa mas. Jadi kami salatnya di asrama saja. Ada ruang tempat tenis meja yang kami jadikan tempat salat,” ujarnya.

Bukan hanya tempat salat yang se ala kadarnya, Hendra dan mahasiswa lainnya juga terpaksa menjalankan terawih tanpa harus ada yang ceramah. Karena kata dia, pihak kampus tidak menyediakan secara khusus ustad atau penceramah bagi mahasiswa muslim yang berada di Rusia. “Yang salat terawih ya kami-kami saja mas. Tidak ada penceramah dan yang jadi imam salat ya kami ganti-gantian,” ceritanya.

Kendati menjalankan ibadah dengan segala keterbatasan, Hendra mengaku tetap khusyuk menjalan ibadah. Tak ada keluhan maupun penyesalan. Bagi dia, ini adalah bagian dari cerita perjalanan hidup untuk menggapai cita-cita. “Alhamdulillah belum ada yang bocor puasanya. Mudah-mudahan saya bisa terus jaga puasa saya,” tutupnya. (*)
Sumber : klikbontang.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.